Apalah Arti Hidup tanpa Bercanda dengan PPDB
Opini

Apalah Arti Hidup tanpa Bercanda dengan PPDB

Urip ki mung mampir ngombe. Nyruput kopi, guyonan sampek kempes.

Ini jadi gambaran pelaksanaan PPDB tahun ini. Setelah pemberlakukan sistem zonasi, saya habis-habisan meyakinkan anak mbarep dan emaknya. Bahwa sistem ini memang harus dilakukan. Demi banyak hal yang menurut saya cukup masuk akal.

Maaf, sejak dulu saya tidak terlalu suka model seleksi berdasar hal-hal sederhana macam hasil ujian nasional. Jaman SMA, saya pilih SMA Negeri 2 Bojonegoro, padahal danem (istilahe waktu iku ngono nek gak salah) saya bisa masuk ke SMA Negeri 1. Alasannya sederhana, SMA ini lebih keren. Sederhana.

Negeri ini tak ubahnya kelinci putih yang lucu. Langkahnya bukan ngesot atau jalan santai. Ia butuh lompatan-lompatan.

Di dunia pendidikan, pemerintah sejak dulu tak terlalu lihai mengunyah persoalan riil yang terjadi di akar rumput. Bahwa pemerataan sekolah negeri masih bermasalah, kualitas anak didik masih njomplang, dan, ini salah satu yang paling penting ; kualitas ekonomi orang tua murid jauh dari merata.

Ada orang tua yang hari-harinya disibukkan pertanyaan kita makan siang di resto mana? Ada juga yang masih bertanya hari ini kita makan apa? Loh, ini riil. Ada juga persoalan anak didik bisa menikmati LBB mahal, ada juga yang cukup les di guru sekolah dengan biaya seikhlasnya. Bahkan ada yang tidak bisa les, karena sepulang sekolah harus bantu ortu ngrajang bawang merah.

Lalu muncul zonasi. Sebagian besar anak didik berpeluang dapat sekolah. Entah favorit entah tidak (baca : istilah asu!). Dan sistem ini, bagi orang seperti saya, sangat menggembirakan. Sejak dulu saya berharap agar anak bisa sekolah di dekat rumah. Biar bisa anak jemput sendiri, biar dia tidak kehabisan energi di jalan sehingga habis maghrib tidur gara-gara kecapekan.

Saya dulu suka iri pada beberapa kawan yang rumahnya dekat sekolah. Sederhana saja, kalau lapar bisa pulang. Dan pas ada barang ketinggalan bisa lompat pagar lalu mengambilnya diam-diam.

Senin (17/6/2019) jam 00.01 WIB, saya mulai nangkring di depan komputer. Buka web ppdbjatim.net, lalu mulai mendaftarkan anak mbarep di SMA negeri terdekat. Ketik ini itu, lalu memilih dua opsi. Bismillah. Done. Lalu ada catatan ‘sudah terdaftar’, hasil rekap akan muncul jam 08.00 WIB. Assiaap!

Besok paginya anak mbarep mecucu. Namanya tidak muncul di daftar rekap siswa diterima, baik di SMA opsi pertama maupun kedua. Layaknya yang lain, dia juga ngomel soal siswa yang nilai UN-nya lebih rendah tapi diterima.

Dengan segenap kemampuan saya mengajak dia berpikir bahwa ini pilihan terbaik. Dia manggut-manggut, mungkin sedikit sebal dengan gaya ngomong saya yang mirip sinetron. “Ya udah yah, ga papa,” kata si mbarep. Wajahnya tetap sedih. Emaknya sedih. Adiknya ikut sedih, meski tangan tetap memainkan senapan hitam yang suaranya berisik.

Selasa (18/6/2019), si mbarep teriak-teriak. Namanya nyangkut di SMA negeri opsi dua lewat jalur zonasi. Namanya ada di nomor bawah, hanya selisih belasan dari total calon siswa. Meski bisa membuat dia senang, saya tetap berpikir kalau ini posisi yang ndrawasi. Tapi gak soal, yang penting dia senang dulu.

Dan benar, beberapa saat kemudian posisinya turun lagi. Wajah si mbarep mecucu lagi. Saya bingung lagi.

Siang, saya ajak dia jalan-jalan melihat sekolah. Lagi-lagi dia senang, mungkin merasa sedikit terhibur. Lalu kami berangkat ke beberapa SMA swasta di Surabaya Timur. Tanya ini itu — khususnya bea masuk yang rata-rata di atas Rp 5 juta — foto-foto, tertawa-tertawa.

Sampai dia bilang, “Ya uda, yah. Swasta ga papa”. Saya tersenyum. Ya sambil mbatin, “Duite trus yo’opo nduk”. Wkwkwk… Urip ki jan embuh kok. Masiyo abot mbrobot tapi tetep cool, ngguya-ngguyu. Nek jare Agung kancaku, dianggep edan lak wes…

Malam menjelang tidur, cek website dan dapat kabar kalau pagu ditambah. Posisi anak naik drastis. Makin aman. Meski jelang jam 24.00 WIB saya cek lagi, posisinya turun lagi. Semua sudah tidur, saya deg-deg-an sendiri. Biar gak sumpek, akhirnya saya nge-game… Sungguh alasan yang mengada-ada.

Rabu (19/6/2019), posisi anak masih aman. Lalu isu seputar pembatalan sistem zonasi bersliweran di WA. Gara-gara ada ratusan orang tua menentang sistem sistem zonasi. Dan beberapa jam kemudian, web PPDB di non aktifkan. Istilah sopan-e ‘Proses zonasi ditangguhkan’.

Di suarasurabaya.net saya baca, aksi unjuk rasa wali murid di depan Gedung Negara Grahadi Rabu (19/6/2019) membuat Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur menghentikan sementara pendaftaran PPDB Jatim 2019.

Hudiyono Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur mengatakan, penghentian sementara PPDB Jatim ini sesuai tuntutan perwakilan wali murid yang berunjuk rasa.

Mbokne hanc… Gara-gara demo itu lalu sistem dihentikan. Justru ketika nasib anak mbarep di daftar penerimaan SMA negeri makin terang benderang.

Di depan Pras, teman lama yang sekarang lagi ngopi bareng di sebuah kedai kopi di Rungkut, saya bilang, wong-wong iki nek guyon suangar. Nggawe-nggawe aturan (zonasi) dewe ditangguhkan dewe. Koyok sulapan…

Ngene iki trus yo’opo jal.

Catatan Hendro D. Laksono
Penulis adalah pengurus RT 5 RW 4 Wisma Penjaringansari



Post Comment