Eri Cahyadi Dorong UKM Wisma Penjaringan Sari Daftar PIRT
Kabar Warga

Eri Cahyadi Dorong UKM Wisma Penjaringan Sari Daftar PIRT

Usaha kecil menengah yang tumbuh di Wisma Penjaringan Sari menuai pujian dari Eri Cahyadi, nara sumber dalam Cangkrukan Inspiratif bertema ‘Membangun Potensi UKM di Kota Surabaya’, Kamis (17/9/2020).

“Semangat pengembangan UKM di perumahaan ini, juga di tempat lain di Surabaya, selaras dengan kebijakan pemerintah kota,” kata Eri.

Di depan lebih dari 100 peserta cangkrukan yang digelar dalam rangka Grand Opening Kedai Teras Kreatif WPS itu ia menjelaskan, UKM sejak 2019 lalu sudah jadi prioritas tersendiri.

“Karena UKM adalah kekuatan ekonomi yang riil ada. Didukung kultur yang memperkuat, yakni perseduluran,” tambahnya.

Pandemi, lanjut Eri, memang masalah besar. Tapi ia berharap agar tidak jadi masalah sehingga kreativitas warga berhenti.

“Sejauh ini pemerintah kota berupaya memperkuat UKM. Di antaranya dengan anjuran pembatasan suplai. Misal sandal di kamar hotel Surabaya ya harus dari UKM Surabaya,” jelas alumnus Fakultas Teknik Sipil Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) ini.

Di luar regulasi, Pemkot juga rutin menggelar pelatihan. Mulai dari pelatihan yang berhubungan dengan kualitas produk, sisi legal formal, misal ijin usaha dan pendaftaran merek dagang, hingga pengenalan standar kesehatan dan lain-lain.

“Pemkot aktif mendata UKM berikut produknya, kebutuhan konsumen termasuk korporat. Apa saja? Regulasi yang dimaksud bila perlu ya harus tegas. Kalau tidak mau pakai produk UKM Surabaya ya ada sanksi,” tandas Eri yang terakhir aktif sebagai Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Kota Surabaya.

Ruang Kreatif Bersama

Menjadi pembicara di hari kedua Grand Opening Kedai Teras Kreatif, Eri beberapa kali memuji kiprah warga. Baik upaya kreatif dalam ber-UKM, juga pendirian Kedai Teras Kreatif.

“Tempat ini bagus. Rasanya layak diperhitungkan jika suatu saat jadi rujukan warga sekitar, termasuk wisatawan, yang ingin datang berbelanja produk UKM,” katanya.

Tantangan terbesarnya, kata Eri, adalah konsistensi dan keseriusan dalam pengembangan. “Jangan gampang menyerah. Ntar bikin kue nggak laku, trus berhenti produksi,” candanya.

Untuk pengembangan, ia kemudian menganjurkan agar pelaku usaha mengajukan memiliki Nomor SP dan Nomor PIRT (Pangan Industri Rumah Tangga). “Dengan mengantongi ijin ini berarti produk warga bisa beredar dengan legal ke pasar. Dan jadi kewajiban pihak Pemkot agar produk ini bisa laku di pasar,” jelas Eri.

Untuk mendapatkan nomor PIRT, pelaku usaha bisa mendaftar ke Dinas Kesehatan. Perlu diketahui, PIRT adalah syarat wajib bagi produksi makanan dan minuman yang memiliki keawetan di atas tujuh hari.

Cangkrukan Inspiratif ini berakhir tepat pukul 22.00 WIB. Dilanjutkan dengan sesi ramah tamah dan foto bersama.

Diskusi serius tapi santai ini dihadiri Akhmad Basyori, Koordinator Kedai Teras Kreatif sekaligus Ketua RT 8, Ir. Putut Pandu Purwoko, Ketua RW IV WPS, H. M. Sudjak, tokoh masyarakat yang juga tercatat sebagai Ketua Badan Pengelola Masjid Al Akbar, Adi Sutarwijono, Ketua DPRD Kota Surabaya, dan tokoh masyarakat lainnya. Diskusi dipandu Hendro D. Laksono, dosen jurnalistik dan konsultan media, yang juga warga Wisma Penjaringan Sari.



Post Comment