Pasar Nol Kilometer Siap Rangkul Potensi Ekonomi Warga
Kabar Warga

Pasar Nol Kilometer Siap Rangkul Potensi Ekonomi Warga

Hadirnya Pasar Nol Kilometer (PNK) ke-7 di Wisma Penjaringan Sari (WPS), Minggu (28/6/2020), meninggalkan banyak catatan. Di antaranya usulan agar produk yang ditawarkan di PNK terus bertambah.

“Sejak gelaran ke-5, variasi produk yang ditawarkan sebenarnya sudah bertambah. Kalau dulu hanya sembako, di gelaran terdahulu sudah ada kopi, sabun cuci, dan barang pecah belah,” jelas Sony Adinawan, Koordinator sekaligus Penanggung Jawab Pasar Nol KIlometer.

Produk tambahan itu sebagian hasil kerjasama dengan supplier, sebagian lagi inisiatif pengelola PNK. Kemudian, lanjut Wawan, panggilan akrabnya, di gelaran selanjutnya ditambah makanan beku dan sayur hasil pertanian salah satu pengurus RT 5 RW IV WPS.

“Kami juga menambahkan Kecap Laron, produk legendaris dari Tuban,” kata Wawan lagi. Produk yang banyak dicari penikmat kuliner Indonesia itu didatangkan langsung dari Tuban, bukan gerai atau pusat kulak di Surabaya.

Meski digelar di tanggal tua, PNK 7 ternyata mampu mendatangkan pengunjung dalam jumlah besar. Beberapa produk bahkan harus kulak ulang di tengah pelaksanaan pasar.

Moh. Taufan, awak PNK, mengaku sempat kewalahan melayani pengunjung. “Tapi sesuai komitmen PNK, saya dan kawan-kawan terus berupaya memberikan pelayanan terbaik,” katanya.

Taufan berkeyakinan, dengan memberikan pelayanan terbaik, pelanggan akan senang berbelanja di bazar rakyat ini. Dengan terus berbelanja, lanjutnya, raihan donasi juga ikut tumbuh. Sehingga warga yang nantinya mendapat paket sembako gratis juga terus bertambah.

“Poin penting dari Pasar Nol Kilometer adalah semangat berbagi. Saat berbelanja, ada donasi yang disisihkan. Jadi hingga kini tidak ada yang berubah. Bahwa pasar ini dimunculkan sebagai ikhtiar membangun ketahanan pangan bersama,” ingatnya.

Bazar yang Merangkul Warga

Memasuki fase barunya, Pasar Nol Kilometer saat ini disiapkan sebagai wadah kolaborasi warga di sektor ekonomi. Karena ke depan, stok barang yang dipasarkan tak lagi muncul dari inisiatif pengelola. Tapi warga Wisma Penjaringan Sari, khususnya yang memiliki usaha mandiri kreatif seperti jus buah, kopi milenial, baju muslim, celana jeans, lampu hias, kue kering, dan lain-lain.

“Keliru jika ada asumsi bahwa Pasar Nol Kilometer akan membunuh usaha warga. Pasar ini sejak awal disiapkan sebagai wadah kolaborasi. Dimana setiap orang bisa berjualan bersama, asal memenuhi syarat harga, kualitas produk, dan pelayanan,” kata Hendro D. Laksono, crew PNK.

Pasar Nol Kilometer, baik offline maupun online, adalah platform bersama. Siapapun, kata Hendro, bisa memanfaatkan. Baik pedagang sembako, pembeli, dan warga yang memiliki keterbatasan ekonomi.

“Kita ciptakan lingkaran yang mampu menyentuh setiap orang. Dan tentu saja, rohnya adalah semangat berbagi, semangat untuk perduli. Masa pandemi setidaknya mengingatkan kita, bahwa hal-hal seperti ini yang mampu membuat kita bertahan,” tegasnya.



Post Comment