Peluang Emas dari Youtube dan Paralon Bekas
Kabar Warga

Peluang Emas dari Youtube dan Paralon Bekas

Jari-jarinya lincah bergerak. Tangan kiri memegang batang paralon berpanjang 40 centimeter, tangan kanannya memegang mesin bor yang ujungnya melikuk mengikuti lobang pola. Beberapa saat kemudian, usai menarik nafas, ia membersihkan permukaan paralon dengan tiupan kecil.

Rochan Effendy, 65 tahun, warga Wisma Penjaringan Sari R-33, nama laki-laki itu, nampak menikmati aktivitasnya. Di tiap tahap, di tiap detail. Di bengkel kerja teras rumah, melebur dengan tumpukan paralon, cat, tumpukan kertas, dan masih banyak lagi. “Berantakan kayak kapal pecah,” canda Rochan.

Pensiun dari sebuah perusahaan kontraktor pada 2018, bapak dua anak ini memilih terus bergerak. Tak mau bermalas-malasan, ia justru sibuk meneruskan hobi lama. Mengolah barang bekas yang berserak jadi benda berharga.

“Ya nggak nyangka, ternyata banyak yang suka. Wong ini bikinnya dari paralon bekas,” kata dia. Dari tangannya, Rochan mencoba menyodorkan lampu hias berbahan paralon bekas. Ukurannya bermacam-macam. Begitu juga motif dan warna. Ada yang hitam, perak, ada juga yang dicat keemasan.

Lampu hias Rochan sebagian didesain dengan desain lugas. Selebihnya dihiasi kaligrafi, sehingga pas jadi penghias rumah dan masjid. Beberapa kali ia juga dapat pesanan khusus untuk kantor.

Seperti sekarang, ia sedang sibuk membuat 13 lampu hias untuk klien di Jombang. “Saya juga pernah dapat order dari Bandung dan Jakarta. Selebihnya ya dari Surabaya ini saja,” akunya. Untuk order khusus seperti ini, Rochan tidak mau berspekulasi. Bahan yang digunakan bukan paralon bekas, tapi yang sama sekali baru.

Karya Rochan, salah satunya jadi penghias sudut bangunan Masjid Jenderal Sudirman, Wisma Penjaringan Sari, Surabaya. Beberapa pengunjung masjid mengaku kagum pada lampu-lampu hias yang ada. “Bikin masjid tambah cantik,” kata mereka.

Demi sebuah produk cantik ini, pembeli mesti menyiapkan Rp 90 ribu hingga Rp 175 ribu. Bukan harga yang mahal. Mengingat buah karya Rochan dibuat dari proses yang sangat berhati-hati. Latar belakangnya di dunia kontraktor membuat Rochan terbiasa kerja serba presisi. Akurat, dan tepat waktu.

Untuk menyelesaikan satu lampu hias, Rochan ternyata butuh waktu dua hari. “Karena suka saja. Padahal dulu belajarnya dari Youtube,” kata suami Sri Musta’ina ini sambil tersenyum.

Ke depan, lanjutnya, ia berharap bisa berbagi skill pada warga sekitar, khususnya generasi muda. Menurut Rochan, kemampuan membuat produk cantik ini sangat mungkin untuk dipelajari.

“Saya terbuka untuk siapa saja yang mau belajar. Yah siapa tahu, bisa bikin lampu hias jadi jalan untuk penghasilan tambahan,” tegasnya.



Post Comment